Tradisi Suroan Kelurahan Sukorame Berlangsung Sukses: Perpaduan Ritual Sakral, Kirab Budaya, dan Pagelaran Wayang Kulit Memukau Warga
- Jul 06, 2026
- KIM TRENGGINAS SUKORAME KOTA KEDIRI
[Sukorame, Kota Kediri] — Rangkaian peringatan bulan Suro atau Tahun Baru Islam di Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, sukses digelar pada Kamis, 2 Juli 2026. Mengusung perpaduan kuat antara nilai religius, ritual sakral leluhur, dan pesta rakyat, seluruh rangkaian acara berjalan dengan khidmat, lancar, dan mendapatkan respons serta antusiasme yang luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat.
Berikut adalah jalannya runtunan acara Suroan Kelurahan Sukorame dari pagi hingga malam hari:
Dimulai dengan Khidmatnya Sema’an Al-Quran
Mengawali hari, suasana religius langsung terasa sejak pagi di Gedung Serbaguna Kelurahan Sukorame. Di tempat ini, dilaksanakan kegiatan Sema’an Al-Quran yang diikuti oleh warga dan para hafiz. Lantunan ayat-ayat suci dikumandangkan sebagai bentuk munajat dan doa bersama demi memohon keselamatan, ketentraman, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat Sukorame dalam menjalani tahun yang baru.
Prosesi Adat di Punden dan Siraman Kentongan Sakral pada Sore Hari
Memasuki sore hari, acara bergeser ke ranah pelestarian tradisi leluhur melalui Prosesi Adat. Prosesi ritual ini secara khusus melibatkan jajaran Perangkat Kelurahan, Tokoh Masyarakat, serta adik-adik mahasiswa KKN dari UIN Syekh Wasil Kediri. Rombongan mendatangi beberapa titik Punden Kelurahan untuk melaksanakan prosesi pemberian sesajen dan doa permohonan restu keselamatan kepada Sang Pencipta. Tak hanya itu, dilakukan pula ritual Siraman Kentongan Sakral, sebuah pusaka kelurahan yang disucikan sebagai simbol kesiapsiagaan, persatuan, dan penolak bala bagi warga.
Penampilan Karawitan Sukmeda Laras SDN Sukorame 2
Menjelang malam, kemeriahan bergeser ke area utama pagelaran wayang kulit. Sebelum pelaksanaan tasyakuran dimulai, suasana di lokasi utama dihangatkan oleh penampilan memukau dari Sanggar Karawitan Sukmeda Laras SDN Sukorame 2. Aksi apik anak-anak sekolah dasar dalam menabuh gamelan ini sukses memikat perhatian warga yang mulai memadati lokasi, sekaligus menjadi bukti nyata keberhasilan regenerasi pelestari budaya sejak usia dini di Kelurahan Sukorame.
Tasyakuran Ba'da Isya Bersama Tiga Pilar dan LKK
Setelah ibadah shalat Isya (ba'da Isya), warga dan para undangan berkumpul di Gedung Serbaguna Kelurahan Sukorame untuk melaksanakan Tasyakuran. Acara ini dihadiri oleh seluruh elemen penting kelurahan, mulai dari jajaran RT, RW, tokoh masyarakat, elemen Tiga Pilar (Lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas), serta Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK). Momen potong tumpeng dan doa bersama ini menjadi ruang silaturahmi yang hangat sekaligus penanda rasa syukur atas kerukunan warga yang terus terjaga.
Pesan dan Harapan dari Pemimpin Wilayah
Dalam sela-sela acara tasyakuran tersebut, Lurah Sukorame, Ibu Vita Sari, S.E., M.M., menyampaikan rasa haru dan bangganya atas kekompakan warga.
"Alhamdulillah, esensi dari Suroan ini adalah wujud syukur dan ruang untuk mempererat kerukunan antarwarga. Terima kasih atas gotong royong seluruh pihak yang membuat acara sesukses ini. Semoga Sukorame ke depan semakin berkah, aman, dan sejahtera," ujar Ibu Vita Sari dalam sambutannya.
Apresiasi senada juga datang dari Camat Mojoroto, Bapak Abdul Rahman, S.H., M.Si., yang turut hadir dan memberikan arahan. Beliau menekankan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah modernisasi zaman.
"Kami dari pihak kecamatan sangat mengapresiasi Kelurahan Sukorame yang konsisten nguri-uri budaya Jawa ini. Suroan di Sukorame bukan sekadar ritual, tapi cerminan harmoni antara ulama, umaro (pemerintah), dan budayawan. Ini adalah modal sosial yang luar biasa untuk membangun wilayah Mojoroto dan Kota Kediri pada umumnya," tegas Bapak Abdul Rahman.
Kirab Budaya Sakral Menuju Lokasi Puncak Acara
Usai tasyakuran rampung digelar, malam hari semakin semarak dengan dimulainya Kirab Budaya. Rombongan berparade secara beriringan dari Gedung Serbaguna menuju lokasi utama pagelaran wayang kulit. Menariknya, kirab ini dipimpin langsung oleh Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Kediri melalui sebuah prosesi yang berlangsung sangat sakral dan agung. Rombongan kirab yang mengenakan pakaian adat khas Jawa sukses menyedot perhatian ribuan pasang mata warga yang memadati sepanjang rute jalan.
Puncak Malam: Pesona Nusantara dan Wayang Kulit "Pandhawa Syukur"
Setibanya rombongan kirab di lokasi utama, panggung malam puncak terlebih dahulu dihangatkan oleh penampilan memukau Pesona Nusantara dari Sanggar Griya Kencana. Tarian kolosal yang apik ini berhasil memikat penonton sebelum memasuki acara inti, yaitu Pagelaran Wayang Kulit.
Malam itu, dalang kondang Ki Sindung Bima Nugraha naik ke atas panggung membawakan lakon "Pandhawa Syukur". Lakon ini sengaja dipilih karena merefleksikan rasa syukur mendalam atas kemenangan, keadilan, dan kemakmuran yang berhasil diraih, sangat selaras dengan semangat warga Sukorame. Alunan gending yang megah dan kepiawaian sang dalang sukses menghibur warga hingga fajar menyingsing.
Apresiasi Tinggi dari Masyarakat
Keberhasilan perayaan Suroan 2026 di Kelurahan Sukorame ini memicu respons positif yang sangat luas. Kolaborasi apik antara berbagai pihak dinilai menjadi kunci utama suksesnya acara ini. Warga mengaku bangga karena Kelurahan Sukorame tidak hanya maju secara formal, namun tetap kukuh memegang teguh identitas budaya dan nilai religiusitasnya. Banyak pihak berharap tradisi sarat makna ini dapat terus dipertahankan sebagai agenda tahunan kebanggaan Kota Kediri.