Gelar Kelas BKR dan PIK-R, Kelurahan Sukorame Kupas Tuntas Rahasia Otak Remaja dan Kesehatan Reproduksi

  • Jul 09, 2026
  • KIM TRENGGINAS SUKORAME KOTA KEDIRI

[Sukorame, Kota Kediri] – Menghadapi tantangan pengasuhan dan tumbuh kembang anak di era modern, Kelurahan Sukorame menggelar kegiatan pembinaan terintegrasi bagi Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026 bertempat di Gedung Serbaguna Kelurahan Sukorame ini dihadiri oleh 40 peserta yang terdiri dari pasangan anak remaja dan orang tua yang mewakili berbagai RT dan RW di wilayah Kelurahan Sukorame.

Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, pihak kelurahan bersinergi dengan para ahli lintas sektor, mulai dari akademisi kesehatan lokal hingga praktisi lapangan sebagai pemateri dalam empat sesi edukasi yang interaktif.

Sesi 1: Pentingnya Menjaga Kesehatan Reproduksi Remaja 

Pada sesi pertama, tim dosen ahli dari Poltekkes Kemenkes Malang di Kediri yakni Susanti Pratamaningtyas, M.Keb. memaparkan materi bertajuk "Edukasi Remaja Sehat: Kesehatan Reproduksi Remaja di Era Digital". Mengusung jargon “Kenali Tubuhmu, Jaga Dirimu, Raih Masa Depanmu,” remaja dibekali pengetahuan sahih mengenai perubahan biologis selama masa pubertas guna menghindari mitos dan keputusan yang salah. Selain pengenalan anatomi sistem reproduksi, materi ini juga menyoroti berbagai tantangan riil remaja saat ini, mulai dari higiene organ intim, risiko perilaku seks pranikah, hingga maraknya misinformasi seputar seksualitas di internet. Remaja diajak untuk berkomitmen menyaring informasi digital secara bijak dan berani berkata "TIDAK" pada perilaku menyimpang.

Sesi 2: Menjembatani Komunikasi Melalui Psikologi Remaja

Masih dipandu oleh dosen ahli dari Poltekkes Kemenkes Malang di Kediri yakni Indah Rahmaningtyas, S.KP., M.Kes., sesi kedua berfokus pada aspek mental melalui tema "Memahami Psikologi Remaja dan Peran Orang Tua di Era Digital". Pemateri menjelaskan bahwa secara sains, otak remaja—khususnya sistem emosi (Amigdala)—berkembang lebih cepat daripada sistem pengambil keputusan (Korteks Prefrontal), sehingga memicu sifat impulsif dan perubahan suasana hati (mood swing). Dalam sesi ini, para peserta diajak mengenali akar konflik yang sering terjadi akibat perbedaan sudut pandang. Remaja dan orang tua dilatih menggunakan metode komunikasi "I-Message" (misalnya: "Saya merasa... ketika... karena saya berharap...") agar dapat menyampaikan isi hati secara asertif tanpa memicu pertengkaran.

Sesi 3: Memahami Batasan Privasi Antara Anak dan Orang Tua

Sesi ketiga yang diisi oleh dosen Poltekkes Kemenkes Malang di Kediri yakni Eny Sendra, S.Kep.Ners., M.Kes. ini mengupas tuntas topik yang sensitif namun penting, yaitu batasan privasi di era digital. Pemateri menekankan pentingnya membangun rasa saling percaya antara anak dan orang tua tanpa harus bersikap mengekang. Orang tua diberikan pemahaman untuk memberikan ruang bagi remaja dalam melatih otonomi berpikir serta menjaga ruang personal mereka, baik di dunia nyata maupun dalam penggunaan gawai pribadi. Di sisi lain, remaja juga diedukasi agar tetap terbuka dan bertanggung jawab atas kepercayaan privasi yang telah diberikan oleh orang tua.

Sesi 4: Menguji Keharmonisan Lewat Kuis "Seberapa Kenal Kita?" 

Sesi terakhir diambil alih oleh Ibu Rr. Agustina selaku Penyuluh KB dari DP3AP2KB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana). Sesi ini dikemas menjadi penutup yang sangat meriah dan penuh tawa melalui kuis interaktif untuk menguji kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Setiap pasangan diminta menjawab pertanyaan mengenai satu sama lain, mulai dari menebak warna kesukaan, makanan favorit, hingga siapa teman terdekat dari masing-masing anak dan orang tua. Melalui pendekatan praktis khas Penyuluh KB, kuis ini tidak hanya mencairkan suasana, tetapi menjadi momen refleksi berharga bagi para peserta untuk menyadari seberapa dalam mereka mengenal pribadi orang terdekat mereka dalam kehidupan sehari-hari.

"Keluarga bukanlah tempat yang sempurna, melainkan ruang terbaik untuk bertumbuh bersama."

Melalui sinergi materi yang padat dan edukatif ini, Kelurahan Sukorame berharap hubungan emosional antara orang tua dan remaja semakin solid, sehingga mampu membentengi generasi muda dari dampak negatif lingkungan dan teknologi digital.